PERTOLONGAN PERTAMA ASFIKSIA NEONATORUM

Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized
Tag:

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Hasil Survai Kesehatan Nasional (Surkesnas) 2004 menunjukkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan angka kematian bayi (AKB), Nasional 52 per 1000 kelahiran hidup. Hingga saat ini, 536.000 perempuan meninggal setiap tahunnya karena komplikasi kehamilan dan persalinan, di mana 99 persen terjadi di negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Dapat dikatakan, setiap satu menit satu nyawa perempuan tak tertolong. Selain itu, 4.3 juta bayi meninggal dalam bulan pertama usianya dan 4 juta bayi lahir mati karena komplikasi kehamilan dan proses persalinan. (Harian Kompas, 2009)
Dalam upaya menurunkan AKB, selain tindakan asuhan persalinan yang tepat dan benar, juga tidak kalah pentingnya adalah asuhan bayi baru lahir yang tepat dan benar juga. Menurut data Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, penyebab kematian neonatal (bayi sampai usia 28 hari) paling tinggi adalah karena bayi berat lahir rendah (BBLR, didefinisikan sebagai bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram), yaitu sebesar 29 persen. Disusul penyebab urutan kedua karena asfiksia pada bayi baru lahir (asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir yang gagal atau tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur), sebesar 27 persen.
Pada setiap kasus persalinan, penolong persalinan seyogyanya senantiasa siap siaga untuk memberikan tatalaksana bayi dengan asfiksia. Tidak setiap kasus asfiksia dapat diramalkan sebelum bayi lahir, mengingat 90 persen penyulit terjadi pada saat persalinan. Penolong persalinan di fasilitas kesehatan yang memadai (dokter umum/spesialis, bidan, dan perawat) sudah memperoleh pelatihan sehingga mampu melakukan langkah-langkah resusitasi ini sesuai algoritma, di mana setiap tindakan didasari pada penilaian kondisi bayi dalam hal: usaha bernapas, frekuensi denyut jantung dan warna kulitnya.
Penilaian dan keputusan setiap tindakan selanjutnya dilakukan setiap 30 detik. Jika upaya resusitasi ini terlambat dimulai atau tidak dilakukan dengan tepat dan benar, dapat mengakibatkan kecacatan dan kematian.Selanjutnya, bayi baru lahir yang sudah mengalami tindakan resusitasi, masih memerlukan perawatan di bawah pengamatan tenaga kesehatan. Jika bayi sampai memperoleh tindakan resusitasi berupa pemberian napas buatan dan seterusnya, bayi tersebut bahkan harus dirawat pada ruang rawat intensif khusus untuk bayi baru lahir (NICU: Neonatal Intencive Care Unit).
Data dari Save The Children 2001 menunjukkan bahwalebih dari 7 juta bayi meninggal setiap tahunnya. Dan hampir dua pertiga bayi yang meninggal, terjadi pada bulan pertama kehidupan. Selain itu, kerentanan bayi yang meninggal meningkat dalam waktu 24 jam sesaat setelah dilahirkan (Indarso, 2001)
Pada neonatus didapatkan adanya faktor adaptasi yang memungkinkan untuk penyesuaian diri dari lingkungan intrauterin menuju lingkungan ekstrauterin. Dan proses perubahan adapatasi ini sangat dipengaruhi oleh faktor kehamilan dan faktor partus. Bila kehamilan ataupun saat persalinan terjadi gangguan, hal ini dapat menimbulkan peningkatan insidensi morbiditas dan mortalitas bayi baru lahir tersebut (Abdoerrachmanet al., 2005).
Proses persalinan dengan sectio caessaria turut mempengaruhi perubahan adaptasi bayi baru lahir. Penelitian menunjukkan bahwa 5-10% bayi yang lahir dengan sectio caessaria mengalami depresi berat pada pusat pernapasan. Sehingga, hal ini mengakibatkan kegagalan neonatus untuk bernapas spontan dan timbul asfiksia neonatorum (Wirjoatmodjo (ed), 2000). Oleh karena itu, tindakan resusitasi yang tepat mutlak dilakukan guna mengurangi mortalitas neonatus akibat persalinan tersebut.

B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, maka dapat di rumuskan masalah yaitu:
“Bagaimana Pertolongan Pertama Asfiksia Neonatorum?”

C. TUJUAN PENULISAN
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, maka tujuan penulisan ini adalah:
• Untuk mengetahui apa itu asfiksia neonatorum
• Untuk mengetahui penyebab asfiksia neonatorum
• Untuk mengatahui bagaimana klasifikasi asfiksia neonatorum
• Untuk mengetahui tanda dan gejala bayi dengan asfiksia neonatorum
• Untuk mengetahui patofisiologi asfiksia neonatorum
• Untuk mengetahui bagaimana pertolongan pertama asfiksia neonatorum

BAB II
PERTOLONGAN PERTAMA ASFIKSIA NEONATORUM

A. PENGERTIAN ASFIKSIA
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernafas secara spontan dan teratur. (Asuhan Persalinan Normal, 2007)
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi lahir yang tidak dapat berafas secara spontan dan teratur, sehingga dapat menurunkan O2 dan makin meningkatkan CO2 yang menimbulkan akibat buruk dalam kehidupan lebih lanjut.
Asfiksia neonatorum adalah keadaan dimana bayi tidak dapat bernafas Secara spontan dan teratur segera setelah lahir . Keadaan ini disertai dengan keadaan hipoksia, hiperapnea, dan berakhir dengan asidosis.
Asfiksia neonatorum adalah Suatu keadaan bayi baru lahir yang gagal bernafas secara spontan dan teratur segera setelah lahir
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul. (Wiknjosastro, 1999)
Jadi, asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas dengan spontan dan teratur segera setelah lahir.

B. PENYEBAB ASFIKSIA NEONATORUM
Asfiksia terjadi karena adanya gangguan pertukaran gas serta transpor O2 dari ibu ke janin sehingga terdapat gangguan dalam persediaan O2 dan dalam menghilangkan CO2. Gangguan ini dapat berlangsung secara menahun akibat kondisi atau kelainan pada ibu selama kehamilan, atau secara mendadak karena hal-hal yang diderita ibu dalam persalinan.
Gangguan menahun dalam kehamilan dapat berupa gizi ibu yang buruk, penyakit menahun seperti anemia hipertensi, jantung dan lain-lain. Faktor – faktor yang timbul dalam persalinan yang bersifat mendadak yaitu faktor janin berupa gangguan darah dalam tali pusat karena tekanan tali pusat, depresi pernafasan karena obat – obatan anesthesia atau analgetika yang diberikan ke ibu, perdarahan intrakranial, kelainan bawaan seperti hernia diafragmatika, atresia saluran pernafasan, hipoplasia paru dll. Sedangkan faktor dari ibu adalah gangguan his missalnya hipertonia dau tetani, hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan, hipertensi pada eklamsia, gangguan mendadak pada plasenta seperti solusio plasenta.
Penggolongan penyebab kegagalan pernafasan pada bayi terdiri dari :
1. Faktor Ibu
• Hipoksia ibu
Hal ini akan menimbulkan hipoksia janin. Hipoksia ibu dapat terjadi karena hipoventilasi akibat pemberian obat analgetik atau anestesi dalam.
• Gangguan aliran darah uterus
Mengurangnya aliran darah pada uterus akan menyebabkan berkurangnya pengairan O2 ke plasenta dan ke janin. Hal ini sering ditemukan pada kasus-kasus :
a. Gangguan kontraksi uterus, misalnya : hipertensi, hipotoni atau tetani uterus akibat penyakit atau obat.
b. Hipotensi mendadak pada ibu karena perdarahan.
c. Hipertensi pada penyakit eklamsia.

2. Faktor Janin
• Depresi pernafasan karena obat-obat anastesia atau analgetika yang diberikan kepada ibu.
• Trauma yang terjadi pada persalinan, misalnya : perdarahan intracranial.
• Kelainan kongenital, misalnya : hernia diafragmatika, atresia saluran pernafasan, hipoplasia paru, dan lain-lain.
• Kompresi umbilikus akan mengakibatkan terganggunya aliran darah dalam pembuluh darah umbilkus dan rnenghambat pertukaran gas antara ibu dan janin. Gangguan aliran darah ini dapat ditemukan dalam keadaan tali pusat membumbung melilit leher, kompresi tali pusat antara jalan lahir dan janin. dll

3. Faktor Persalinan
• partus lama
• partus dengan tindakan, dan lain – lain.

4. Faktor Plasenta
• Pertukaran gas antara ibu dan janin dipengaruhi oleh luas dan kondisi plasenta, asfiksia janin akan terjadi bila terdapat gangguan mendadak pada plasenta, misalnya solution plasenta, perdarahan plasenta, plasenta kecil, plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada tempatnya.

C. KLASIFIKASI ASFIKSIA

Untuk menentukan derajat asfiksia, digunakan skor APGAR
Tanda 0 1 2
Frekuensi Jantung Tidak ada 100x/menit
Usaha bernafas Tidak ada Lambat, tidak teratur Menangis kuat
Tonus otot Lumpuh Ektremitas fleksi sedikit Gerakan aktif
Refleks Tidak ada Gerakan sedikit Menangis
Warna Biru/pucat Tubuh kemerahan, ektermitas biru Tubuh dan ektremitas kemerahan
Skor APGAR dinilai :
I : 1 menit setelah bayi lahir menentukan apakah di perlukan tindakan resusitasi
II : 5 menit setelah bayi lahir untuk menilai hasil resusitasi dan prognosis

Asfiksia neonatorum diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Asfiksia Berat (Nilai APGAR 0-3)
Resusitasi aktif dalam keadaan ini harus segera dilakukan. Langkah utama ialah memperbaiki ventilasi paru-paru dengan memberikan O2 secara tekanan langsung dan berulang-ulang. Bila setelah beberapa waktu pernafasan spontan tidak timbul dan frekuensi jantung menurun maka pemberian obat-obat lain serta masase jantung sebaiknya segera dilakukan.
2. Asfiksia -sedang (Nilai APGAR 4-6)
Pernafasan aktif yang sederhana dapat dilakukan secara pernafasan kodok (frog breathing). Cara ini dikerjakan dengan melakukan pipa ke dalam jantung dan O2 dialirkan dengan kecepatan 1-2 liter dalam 1 menit. Agar saluran nafas bebas, bayi diletakkan dengan kepala dorsofleksi.
Pada pernafasan dari mulut ke mulut, mulut penolong diisi terlebih dahulu dengan O2 sebelum pernafasan. Peniupan dilakukan secara teratur dengan frekuensi 20-30 kali semenit dan diperhatikan gerakan pernafasan yang mungkin timbul. Jika terjadi penurunan frekuensi jantung dan tonus otot maka bayi dikatakan sebagai penderita asfiksia berat.

3. Asfiksia ringan (Nilai Apgar 7-10)
Bayi dianggap sehat dan tidak memerlukan tindakan istimewa.
D. TANDA DAN GEJALA
• Hipoksia
• RR> 60 x/menit atau 100 x / menit, nilai warna kulit jika merah / sinosis perifer lakukan observasi, apabila biru beri oksigen. Denyut jantung < 100 x / menit, lakukan ventilasi tekanan positif.
• Bila bayi tidak bernafas atau megap-megap mulai lakukan ventilasi

Tahap II : Ventilasi
Ventilasi adalah tahapan tindakan resusitasi untuk memasukan sejumlah volume udara ke paru-paru dengan tekanan positif untuk membawa aveoli perlu agar bayi bisa bernafas spontan dan teratur
Langkah-langkah sebagai berikut :
a. Pasang sungkup
Pasang sungkup dan pegang agar menutupi mulut dan hidung bayi

b. Ventilasi 2 kali
• Lakukan tiupan dengan tekanan 30 cm air
• Lihatlah apakah dada bayi mengembangl. Bila dada tidak mengembang periksa posisi kepala, pastikan sudah ekstensi, periksa posisi sungkup dan pastikan tidak ada udara bocor dan periksa cairan atau ledir di mulut bila ada mengembang lakukan tahapan berikutnya.
c. Ventilasi 20 kali dalam 30 detik
• Lanjutkan ventilasi tiap 20 x dalam 30 detik (dengan tekanan 20 cm air)
• Hentikan ventilasi setiap 30 detik
• Lakukanlah penelitian bayi, apakah bayi bernafas, bernafas tidak normal atau megap-megap :
1.Bila bayi normal, hentikan ventilasi dan pantau bayi dengan seksama
2.Bila bayi tidak bernafas atau megap-megap, teruskan ventilasi 20 x dalam 30 detik, kemudian lakukan penilaian setiap 30 detik.
• Apabila frekuensi denyut jantung bayi < 80 kali / menit, di mulai kompresi dada
• Frekuensi denyut jantung bayi <60 kali / menit, VTP di lanjutkan periksa ventilasi apakah adekuat dan oksigen yang di berikan benar segera dimulai kompresi dada bayi.
d. Kompresi dada
• Kompresi dilakukan apabila setelah 15-30 detik melakukan VTP dengan oksigen 100%, frekuensi jantung bayi < 60 kali / menit atau 60-80 kali/ menit dan tidak bertambah.
• Pelaksana menghadap kedada bayi dan kedua tangan dalam posisi yang benar.
• Kompresi di lakukan di 1/3 bagian bawah tulang dada di bawah garis khayal yang menghubungkan kedua putting susu bayi.
• Dengan posisi jari-jari yang benar gunakan tekanan yang cukup untuk menekan tulang dada ½-3/4 inci (sekitar 2 cm) kemudian tekanan di lepaskan untuk memungkinkan pengisian jantung.
• Rasio kompresi dada dan ventilasi 1 menit adalah 90 kompresi, 30m ventilasi.
• Apabila setelah 30 detik frekuensi jantung mencapai 80 kali/menit atau lebih tindakan kompresi dada di hentikan.
e. Terapi medikamentosa
 EPINEPRIN
Indikasi :
• Denyut jantung bayi adekuat < 60 kali permenit setelah paling tidak 30 detik
dilakukan ventilasi adekuat dan kompresi dada belum ada respon
• Asistolik
Dosis:
0,1 – 0,3 ml / kg bb dalam larutan 1 : 10.000 (0,01 mg – 0.03 mg/ kg bb)
Cara:
IV atau endotrakheal. Dapat diulang setiap 3-5 menit bila perlu.
 CAIRAN PENGGANTI VOLUME DARAH
Indikasi:
• Bayi baru lahir yang dilakukan resusitasi mengalami hipovolemia dan tidak ada
respon dengan resusitasi.
• Hipovolemia
kemungkinan akibat adanya perdarahan atau syok. Klinis ditandai dengan
pucat, perfusi buruk, nadi kecil atau lemah dan pada resusitasi tidak
memberikan respon yang adekuat.
Jenis cairan :
• Larutan kristaloid yang isotonis ( NACL 0,9 % , ringer laktat)
• Transfusi darah
Dosis:
Dosis awal 10 ml/ kg bb IV pelan selama 10 -15 menit. Dapat diulang sampai
menunjukkan respon klinik
 BIKARBONAT
Indikasi : Asidosis metabolic secara klinik( nafas cepat dan dalam,
sianosis)
Prasyarat : Bayi telah dilakukan ventilasi dengan epektif.
Dosis : 1-2 m Eq / kg bb atau 2 ml /kg bb(4,2 %) atau 1 ml / kg bb (7,4 %)
Cara : Diencerkan dengan aquabides atau dextrose 5 % sama banyak diberikan
Secara intravena dengan kecepatan minimal 2 menit
Efek samping: Pada keadaan hiperosmolaritas dan kandungan CO2 dari bikarbonat merusak fungsi miokardium dan otak
 NALOKSON
Nalokson Hidroklorida adalah antagonis narkotik yang tidak rnenyebabkan depresi pernafasan.
Indikasi:
1. Depresi psmapa$an pada bayi bam lahir yang ibunya menggunailcan narkotik 4 jam sebelurn persalinan.
2. Sebelum diberikan nalokson, ventilasi harus adekuat dan stabil.
3. Jangan diberilm pada bayi brug lahir yang ibrmya baru dicurigai sebagai pemakai obat narkotika sebab akan menyebabkan tanpa with drawl tiba-tiba pada sebagian bayi.
Dosis : 0,1 mgikgBB ( 0,4 mg/ml atau lmg/ml)
Cara : i.v endotrakheal atau bila perfusi baik diberikan i.m atau s.c
f. Siapkan rujukan bila bayi belum bernafas normal sesudah 2 menit ventilasi
• Mintalah keluarga untuk mempersiapkan rujukan
• Hentikan ventilasi sesudah 20 menit tidak berhasil
Tahap III : Asuhan Pasca Resusitasi
Asuhan pasca resusitasi adalah pelayanan kesehatan pasca resusitasi, yang diberikan baik kepada bayi baru lahir ataupun ibu dan keluarga setelah resusitasi berhasil sebaiknya bidan tinggal bersama ibu dan keluarga bayi untuk memantau bayi minimal 2 jam pertama
a. Bila pernafasan bayi dan warna kulitnya normal, berikan pada ibunya
b. Letakkan bayi di dada ibu dan selimuti keduanya dengan kain hangat
c. Anjurkan ibu menyusui bayinya dan membelainya
d. Lakukan asuhan neonatal normal
e. Lakukan pemantauan seksama terhadap bayi pasca resusitasi selama 2 jam pertama
• Perhatikan tanda-tanda kesulitan bernafas pada bayi
1. Terikan dinding dada ke dalam nafas megap-megap, frekuensi nafas < 60 x/menit
2. Bayi kebiruan atau pucat
3. Bayi lemas
• Pantau juga bayi yang berwarna pucat walaupun tampak bernafas
f. Jagalah agar bayi tetap hangat dan kering
• Tunda memandikan bayi sampai 6 sampai 24 jam
g. Bila kondisi bayi memburuk
• Perlu rujukan sesudah resusitasi

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Asfiksia neonatorum adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas dengan spontan dan teratur segera setelah lahir.Untuk menentukan derajat asfiksia dapat menggunakan APGAR score. Bayi dengan asfiksia pertolongan pertamanya dapat di lakukan dengan tindakan Resusitasi. Untuk melakukan tindakan resusitasi, penolong harus benar-benar mempunyai kemampuan untuk melakukannya, sebab tindakan ini hanya di lakukan dalam 30 detik. Dalam melakukan tindakan resusitasi di mulai dari langkah awal, jika tidak berhasil di lanjutkan dengan pemberian Ventilasi Tekanan Positif (VTP) dan apabila tidak berhasil juga bisa di lakukan kompresi dada atau bahkan belum berhasil berikan medikamentosa seperti obat-obatan (epineprin). Apabila kondisi bayi membaik, lakukan perawatan pasca resusitasi dan asuhan bayi normal.

B. SARAN
Pertolongan pertama pada bayi dengan asfiksia harus segera di lakukan dan bagi penolong hendaknyamemiliki kemampuan untuk melakukan resusitasi atau kompresi dada. Untuk penolong persalinan (bidan) boleh melakukan tindakan resusitasi, sebab ini sesuai dengan standar pelayanan kebidanan yaitu standar penanganan kegawatdaruratan obstetric dan neonatal ( standar 24 – penanganan asfiksia neonatorum. Selain itu juga sesuai dengan Kepmenkes no.900 th 2002 (pasal 16 ayat 2 bagian d yaitu: resustasi pada bayi baru lahir).

DAFTAR PUSTAKA

Hardiono, Dipusponegoro. 2004. ASFIKSIA NEONATORUM, STANDAR PELAYANAN MEDIS KESEHATAN ANAK EDISI I. Jakarta: IDAI
IBI. 2003. STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN. Jakarta: Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia
Kautsar. PENGERTIAN DAN PENANGANAN ASFIKSIA NEONATORUM. 1 April 2010. Di unduh dari http://www.google.com
Kepmenkes RI no.900 Th 2002. REGISTRASI DAN PRAKTIK BIDAN
Manuaba. 2007. PENGANTAR KULIAH OBSTETRI. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s