EFUSI PLEURA

Posted: Juni 30, 2011 in Uncategorized
Tag:

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Efusi pleura merupakan penyakit saluran pernafasan. Penyakit ini bukan merupakan suatu disease entity tapi merupakan suatu gejala penyakit yang serius yang dapat mengancam jiwa penderita (WHO).
Secara geografis penyakit ini terdapat di seluruh dunia, bahkan menjadi problema utama di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan karena faktor lingkungan, di Indonesia penyakit efusi pleura dapat ditemukan sepanjang tahun dan jarang dijumpai secara sporadis, tetapi lebih sering bersifat epidemik disuatu daerah.
Pengetahuan yang dalam tentang efusi pleura merupakan pedoman dalam pemberian asuhan yang tepat. Disamping pemberian obat, penerapan proses perawatan yang tepat memegang peranan penting dalam proses penyembuhan dan pencegahan guna mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat efusi pleura.
Sehubungan dengan hal tersebut diatas. Maka penulis tertarik untuk membahas kasus efusi pleura ini pada Tn.M di RSUP Dr.M.Djamil Padang .

1.2 TUJUAN PENULISAN
1.2.1 Tujuan Umum

Agar mampu melaksanakan asuhan gawat darurat pada Tn. M dengan Efusi Pleura

1.2.2 Tujuan Khusus

1. Dapat melakukan pengkajian data melalui wawancara, observasi dan pemeriksaan fisik pada Tn.M
2. Dapat menegakkan diagnosa,merumuskan rencana dan evaluasi hasil
3. Dapat mendokumentasikan asuhan gawat darurat pada Tn.M dengan efusi pleura

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFENISI
Efusi pleura adalah penumpukan cairan didalam ruang pleural. Proses penyakit primer jarang terjadi, namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih yang mungkin merupakan transundat,eksudat atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane.2000)
Efusi pleura adalah pengunpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan viseral dan parietal. Proses penyakit primer jarang terjadi, namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15 ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya fiksi (Smeltzer C Suzanne.2002)
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan untuk penimbunan cairan dalam rongga pleura (Price C Sylvia.2005)
2.2 ETIOLOGI
Adapun etiologi dari efusi pleura adalah:
a. Hambatan reabsorbsi cairan dari rongga pleura karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis,penyakit ginjal,tumor mediastinum,sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena cava superior.
b. Pembentukan cairan yang berlebihan karena radang (TBC, Pneumonia, Virus, Bronkiektasis, Abses amuba subfrenik) yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena Tuberculosis.
Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik,tromboembolik,kardiovaskuler dan infeksi. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasa,yaitu:
1. Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik
2. Penurunan tekanan osmotik koloid darah
3. Peningkatan tekanan negative intrapleural
4. Adanya inflamasi atau neoplastik pleura

2.3 TANDA DAN GEJALA
1. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan. Setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan banyak penderita akan sesak nafas.
2. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam,menggigil dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (TBC, banyak keringat, batuk)
3. Deviasi tracea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi. Jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan.
4. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berbeda, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernafasan, fremilus melemah (raba dan vocal). Pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Domoiseu)
5. Didapati segitiga Garland yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domoiseu. Segitiga Grocco Rochfusz yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain. Pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
6. Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

2.4 PATOFISIOLOGI
Di dalam rongga pleura terdapat ± 5 ml cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parietalis dan pleura viseralis. Cairan ini di hasilkan oleh kapiler pleura parietalis karena adanya tekanan hidrostatik, tekanan koloid dan daya tarik elastis. Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura viseralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) mengalir kedalam pembuluh limfe. sehingga pasase cairan disini mencapai 1 liter seharinya.
Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura. Ini terjadi bila keseimbangan antara produksi dan absorbsi terganggu. Misalnya pada hyperemia akibat inflamasi, perubahan tekanan osmotik (hipoalbuminemia),peningkatan tekanan vena (gagal jantung). Atas dasar kejadian, efusi dapat di bedakan atas transudat dan eksudat.
Transudat misalnya terjadi pada gagal jantung karena bendungan vena disertai peningkatan tekanan hidrostatik dan sirosis hepatis karena tekanan osmotik koloid yang menurun.
Eksudat dapat disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenisnya tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih.
2.5 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Pemeriksaan Radiologik (Foto Thoraks)
Pada permulaan didapati menghilangnya sudut kostrofrenik. Bila cairan lebih 300 ml akan tampak cairan dengan permukaan melengkung. Mungkin terdapat pergeseran mediastinum
2. Pemeriksaan Ultrasonografi
3. Pemeriksaan Torakosentesis (Fungsi pleura)
Untuk mengetahui kejernihan, warna, biakan tampilan,sitologi,berat jenis, fungsi pleura diantara linea aksilaris anterior dan posterior pada sela iga ke-8, didapati cairan yang mungkin serosa (serotoraks), berdarah (hemotoraks), pus (pitoraks), atau kilus (kilotoraks). Bila cairan serosa mungkin berupa transudat (hasil bendungan) atau eksudat (hasil radang)
4. Cairan pleural di analisis dengan kultur bakteri,pewarnaan gram,basil tahan asam (untuk TBC),hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa,amylase,LDH,protein) analisis sitologi untuk sel-sel malignan dan pH
5. Biopsi pleura mungkin juga dilakukan

2.6 PENATALAKSANAAN MEDIS
Pengobatan spesifik ditujukan pada penyebab dasar (contoh: gagal jantung kongesif,pneumonia,sirosis).
Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan,untuk mendapatkan spesimen guna keperluan analisi dan untuk menghilangkan dispneu.
Bila penyebab dasar malignansi,efusi dapat terjadi kembali dalam beberapa hari atau minggu. Torasentesis berulang mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit dan kadang pneumotoraks. Dalam keadaan ini kadang di atasi dengan pemasangan selang dada dengan WSD atau pengisapan untuk mengevaluasi ruang pleura dan pengembangan paru.
Agen yang secara kimiawi mengiritasi seperti tetrasiklin dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang pleura dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk radiasi dinding dada.

2.7 WATER SEAL DRAINASE (WSD)
2.7.1 Defenisi
WSD adalah suatu unit yang bekerja sebagai drain untuk mengeluarkan udara dan cairan melalui selang dada.
2.7.2 Indikasi
• Pneumothoraks (karena rupture bleb,luka tusuk tembus)
• Hemothoraks (karena robekan pleura,kelebihan anti koagulan, pasca bedah thoraks)
• Torakotomi
• Efusi pleura
• Empiema (karena penyakit paru serius dan kondisi inflamasi)
2.7.3 Tujuan Pemasangan
• Untuk mengeluarkan udara,cairan atau darah dari rongga pleura
• Untuk mengembalikan tekanan negative pada rongga pleura
• Untuk mengembangkan kembali paru yang kolap dan kolap sebagian
• Untuk mencegah reflux drainase kembali ke dalam rongga dada
2.7.4 Tempat Pemasangan
• Apikal
Letak selang pada interkosta III mid Klavikula,dimasukkan secara anterolateral yang berfungsi untuk mengeluarkan udara dari rongga pleura
• Basal
Letak selang pada interkosta V-VI atau interkosta VIII -IX mid aksiller yang berfungsi untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura
2.7.5 Jenis WSD
• Sistem satu botol
Paling sederhana dan sering digunakan pada pasien dengan simple pneumothoraks
• Sistem dua botol
Pada sistem ini, botol pertama mengumpulkan cairan/drainase dan botol kedua adalah botol water seal
• Sistem tiga botol
Pada sistem ini, botol penghisap kontrol ditambahkan ke sistem dua botol. Sistem ini plaing aman untuk mengatur jumlah penghisapan.

2.8 CARA PENILAIAN A,B,C,D
2.8.1 Cara penilaian airway (jalan nafas)
Jalan napas merupakan pintu gerbang masuknya oksigen ke dalam tubuh manusia. Apapaun usaha yang dilakukan, namun bila jalan napas tertutup semuanya akan gagal.
Prioritas pertama adalah airway, karena sumbatan airway adalah penyebab utama kematian dibandingkan dengan breathing dan sirkulasi. Oleh karena itu jalan nafas harus tetap terjaga dan terbuka, biasanya obstruksi jalan nafas total yang sering sekali menyebabkan kematian.
Menilai airway pada korban sadar yaitu korban sadar yang dapat berbicara dengan suara jelas tanpa ada suara tambahan, airway baik.Jika korban mengeluarkan suara tambahan, berarti ada sumbatan.Pada orang yang sadar dan dapat berbicara dengan suara yang jelas, maka untuk sementara dapat dianggap bahwa airway dalam keadaan baik. Pernyataan di atas ini berlaku dengan syarat bahwa penderita berbicara dengan jelas, tanpa ada suara-suara tambahan (suara-suara lain) saat menarik nafas. Saat menarik nafas, hanya terdengar bunyi udara yang masuk.
Pada penderita yang tidak respon, penolonglah yang harus mengambil inisiatif untuk membuka jalan napas. Cara membuka jalan napas yang dianjurkan adalah angkat dagu tekan dahi. Pastikan juga mulut korban bersih, tidak ada sisa makanan atau benda lain yang mungkin menyumbat saluran napas.
Untuk menilai adanya gangguan jalan nafas (airway) maka kita gunakan metode “look,listen and feel”.
• Look
Kita dapat melihat adanya pergerakan jalan nafas.
• Listen
Kita mendengar adanya suara nafas tambahan yang mempunyai berbagai macam jenis, paling sering adalah snoring (ngorok) yg disebabkan oleh obstruksi mekanis seperti lidah yg jatuh ke hipfaring, gargling (suara kumur) yg disebabkan oleh cairan seperti darah atau sekret yg berlebihan, dan crowing (suara melengking saat inhalasi) karena adanya spasme laring.
• Feel
Kita akan merasakan adanya hembusan angin.
2.8.2 Cara penilaian breathing (pernafasan)
Breathing atau ventilasi adalah suatu proses pengambilan oksigen dari udara bebas dan pengeluaran karbon dioksida ke udara bebas. Maka untuk menilai gangguan pada breathing segera lihat ada tidaknya pergerakan nafas.Ventilasi yang baik meliputi fungsi yang baik dari paru, dinding dada dan diafragma. Setiap komponen ini harus dievaluasi secara cepat.
Ventilasi dikatakan baik apabila :
1. Bentuk dada simetris
2. Penderita tidak sesak
3. Tidak disertai suara, gurgling, snoring, crowing
4. Tidak sianosis
Pemeriksaan yang digunakan untuk mengetahui ada gangguan breathing:
1. Inspeksi = untuk melihat ekspansi pernafasan.
2. Auskultasi = untuk memastikan masuknya udara kedalam paru.
3. Perkusi = untuk menilai adanya udara atau darah dalam
rongga pleura.
4. Palpasi = untuk melihat kelainan dinding dada yang mungkin
mengganggu ventilasi.
Frekuensi Pernafasan Normal:
• Bayi baru lahir 40 – 60 x/menit.
• Umur 11 bulan 30x/menit
• Umur 2 tahun 25x/menit
• Umur 4 – 12 tahun 19 – 23x/menit
• Umur 14 – 18 tahun 16 – 18x/menit
• Dewasa 12 – 20x/menit
• Lansia ( >65 tahun ) Jumlah respirasi meningkat bertahapPernafasan
• Pada orang dewasa abnormal bila pernfasan >30 atau <10 kali/menit
Pada orang yang normal saat inspirasi dan ekspirasi tidak bersuara, pada orang yang abnormal dalam bernafas bersuara.
Whezzing (mengi) : secara relative nadanya tinggi, dengan kualitas merintih.
Bila terjadi penyempitan saluran pernafasan.
Ronkhi : Nada rendah, dengan kualitas mendengkur. Dapat disebabkan karena penumpukan secret

2.8.3 Cara penilaian circulatioan (jantung dan pembuluh darah)

1. Umum
a. Frekuensi denyut jantung
Frenkuensi denyut jantung pada orang dewasa adalah 60-80/menit.
b. Penentuan denyut nadi
Pada orang dewasa dan anak-anak denyut nadi diraba pada a.radialis (lengan bawah, dibelakang ibu jari) atau a.karotis, yakni sisi samping dari jakun.

2. Henti jantung
Gejala henti jantung adalah gejala syok yang sangat berat. Penderita mungkin masih akan berusaha menarik nafas satu atau dua kali. Setelah itu akan berhenti nafas. Pada perabaan nadi tidak ditemukan a.karotis yang berdenyut.Bila ditemukan henti jantung maka harus dilakukan masase jantung luar yang merupakan bagian dari resusitasi jantung paru (RJP,CPR).
Tekanan darah normal untuk orang dewasa yang sehat sistolik 120 mmHg dan diastolik 80 mmHg. Hal yang sama diindikasikan sebagai <120 / <80 mmHg.

2.8.4 Cara penilaian disability (tingkat kesadaran)
Yang dinilai adalah tingkat kesadaran ) menggunakan AVPU atau GCS, reaksi pupil serta motorik dari masing-masing anggota gerak.
Penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh penurunan oksigenisasi atau gangguan perfusi otak bisa juga disebabkan oleh perlukaan pada otak itu sendiri. Perubahan kesadaran menuntut dilakukannya pemeriksaan dan penanganan cepat terhadap keadaan ventilasi perfusi dan oksigenisasi.
Alkohol dan obat-obatan dapat mengganggu tingkat kesadaran penderita, walaupun demikian bila sudah disingkirkan kemungkinan hipoksia atau hipovolemia penyebab penurunan kesadaran, maka trauma kapitis dianggap sebagai penyebabnya sampai terbukti sebaliknya
CARA PENILAIAN GLASSGOW COMA SCALE
EYE :
• Buka mata spontan : Nilai 4
• Buka mata terhadap suara : Nilai 3
• Buka mata terhadap nyeri : Nilai 2
• Tidak buka mata : Nilai 1
VERBAL :
• Bicara biasa : Nilai 5
• Bicara mengacau : Nilai 4
• Hanya kata-kata : Nilai 3
• Hanya suara : Nilai 2
• Tidak ada respon : Nilai 1

MOTORIK :
• Mengikuti perintah : Nilai 6
• Melokalisisr nyeri : Nilai 5
• Menjauh dari nyeri : Nilai 4
• Fleksi abnormal : Nilai 3
• Ektensi abnormal : Nilai 2
• Tidak ada respon : Nilai 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s